Jejak Melayu dan Dunia Islam di Singapura

Singapura sering dikenal sebagai kota modern dengan gedung pencakar langit, pusat bisnis internasional, dan gaya hidup kosmopolitan. Namun, di balik citra modern itu, Singapura menyimpan warisan budaya yang kaya, terutama dari masyarakat Melayu dan Islam yang menjadi salah satu fondasi sejarah negeri ini.

Jejak Melayu dan dunia Islam tidak hanya hadir dalam bentuk bangunan bersejarah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, tradisi, kuliner, hingga festival keagamaan. Kawasan seperti Kampong Glam dan Geylang Serai menjadi saksi perjalanan panjang masyarakat Melayu Muslim yang telah hadir sejak awal berdirinya Singapura sebagai pelabuhan perdagangan.

Sejarah Awal Masyarakat Melayu di Singapura

Sebelum kedatangan kolonial Inggris pada abad ke-19, Singapura merupakan bagian dari Kesultanan Johor-Riau-Lingga, dengan pengaruh kuat dari Kesultanan Melayu yang lebih tua. Pulau ini memiliki komunitas Melayu yang tinggal di pesisir dan berperan penting dalam perdagangan regional.

Pada tahun 1819, ketika Sir Stamford Raffles mendirikan pelabuhan perdagangan modern di Singapura, masyarakat Melayu sudah lebih dulu menetap. Raffles kemudian menetapkan Kampong Glam sebagai tempat tinggal resmi Sultan Hussein Shah dan keluarganya, sekaligus pusat masyarakat Muslim di Singapura.

Kampong Glam : Pusat Jejak Melayu dan Islam

Hingga kini, Kampong Glam tetap menjadi pusat budaya Melayu dan Islam di Singapura. Kawasan ini kaya akan situs bersejarah, arsitektur indah, serta suasana tradisional yang berpadu dengan sentuhan modern.

1. Masjid Sultan

Masjid ini adalah ikon utama Kampong Glam. Dibangun pertama kali pada tahun 1824 untuk Sultan Hussein Shah, masjid ini kemudian diperbesar dan direnovasi hingga menjadi bangunan megah dengan kubah emas yang menawan. Masjid Sultan bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan komunitas Muslim di Singapura.

2. Malay Heritage Centre

Terletak di bekas istana Sultan Hussein, tempat ini menjadi museum yang menceritakan sejarah masyarakat Melayu di Singapura. Wisatawan dapat menemukan pameran artefak, foto sejarah, serta kisah-kisah tentang kehidupan Melayu di era kolonial hingga masa kini.

3. Haji Lane dan Bussorah Street

Di sekitar Masjid Sultan, wisatawan dapat menjelajahi jalan-jalan kecil yang dipenuhi butik, galeri seni, dan kafe modern. Meski sudah berkembang menjadi pusat gaya hidup, kawasan ini tetap mempertahankan suasana historis dengan nuansa budaya Melayu dan Islam.

Geylang Serai : Jantung Kehidupan Melayu Modern

Selain Kampong Glam, Geylang Serai adalah kawasan lain yang menjadi pusat kehidupan masyarakat Melayu di Singapura. Kawasan ini terkenal dengan pasar tradisional, pusat kuliner, serta bazar besar yang selalu hadir menjelang Ramadan.

  • Pasar Geylang Serai – menawarkan beragam bahan makanan tradisional Melayu, rempah-rempah, hingga kain dan busana Muslim.

  • Bazar Ramadan Geylang Serai – salah satu bazar terbesar di Singapura yang selalu dipadati wisatawan dan warga lokal.

Geylang Serai menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat Melayu Muslim tetap menjaga identitas budaya dan agama di tengah perkembangan kota modern.

Seni, Budaya, dan Tradisi Melayu Islam

Jejak budaya Melayu Islam juga dapat ditemukan melalui seni dan tradisi yang masih dilestarikan.

  • Tarian Melayu seperti zapin dan joget sering ditampilkan dalam acara budaya.

  • Musik tradisional dengan alat seperti kompang dan gamelan masih digunakan dalam upacara pernikahan atau perayaan penting.

  • Busana tradisional seperti baju kurung dan songkok tetap populer, terutama saat Hari Raya Idulfitri.

  • Kuliner Melayu Islam seperti nasi padang, rendang, lontong, dan kue tradisional menjadi bagian penting dari identitas kuliner Singapura.

Perayaan Islam di Singapura

Singapura merayakan beberapa hari besar Islam sebagai hari libur nasional, mencerminkan pengakuan negara terhadap peran penting komunitas Muslim.

  • Hari Raya Aidilfitri – dirayakan dengan meriah di Kampong Glam dan Geylang Serai, lengkap dengan bazar, dekorasi, serta hidangan khas.

  • Hari Raya Haji – diperingati dengan ibadah kurban di masjid-masjid besar.

Selain itu, masjid-masjid di Singapura juga aktif dalam pendidikan agama, kegiatan sosial, dan dialog antaragama.

Jejak Islam dalam Kehidupan Modern Singapura

Meski menjadi negara dengan mayoritas penduduk non-Muslim, Singapura berhasil menjaga harmoni antaragama. Jejak Islam tidak hanya terlihat dalam arsitektur dan tradisi, tetapi juga dalam kebijakan pemerintah:

  • Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS) – lembaga resmi yang mengatur urusan Islam, termasuk halal food certification yang sangat ketat.

  • Madrasah dan pendidikan Islam – tersedia bagi masyarakat Muslim, selain sekolah umum.

  • Restoran halal – mudah ditemukan di seluruh Singapura, sehingga wisatawan Muslim merasa nyaman.

Jejak Melayu dan dunia Islam di Singapura adalah bukti bahwa modernitas tidak harus menghapus tradisi. Di tengah kota yang gemerlap, warisan Melayu dan Islam tetap hidup melalui masjid, pasar tradisional, kuliner, serta festival yang meriah.

Bagi wisatawan, menjelajahi Kampong Glam, Geylang Serai, hingga menikmati kuliner Melayu halal bukan hanya sebuah perjalanan wisata, tetapi juga pengalaman budaya yang memperkaya. Singapura menunjukkan bagaimana identitas Melayu dan Islam dapat berharmoni dengan multikulturalisme, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari cerita besar Negeri Singa.

Selalu Tahu Kabar Terbaru

Dapatkan berbagai rekomendasi travel & gaya hidup serta info promo menarik dengan berlangganan newsletter kami.
Payment Patners
Kontak

Jakarta :

The Mansion Bougenville Fontana

Jl. Trembesi, Pademangan Tim., Kec. Kemayoran, Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14410

Bali :

WorkBez Service Office

Graha Merdeka. Jl. Merdeka, Sumerta Kelod, Kec. Denpasar Tim., Kota Denpasar, Bali 80239

Copyright @ Red Feng by Jenovac Infinity Royal – Jenovac Group